Kekasihku bukan Masa Depanku Kediri real story
Kisah perjalanan asmara bukan menjadi hal asing bagi setiap orang. Semua pasti pernah mengalami dengan warna kenangannya masing-masing. Alangkah indah bagi mereka yang perjalanan asmaranya berakhir bahagia, namun tidak sedikit pula yang menjadi duka. Kenyataanya takdir luka terkadang jauh lebih kuat dari sekedar keyakinan untuk bersama.
Sebagaimana gadis pada umumnya, aku juga pernah merasakan jatuh cinta yang hebat. Ambisi kami bersama menciptakan banyak kenangan yang mewarnai suka duka. Kali ini aku ingin mengisahkan sedikit masa laluku untuk dapat meredakan banyak luka di luar sana, kamu tidak sendirian mengalaminya.
Wanti, itulah nama samaranku. Saat ini usiaku sudah 23 tahun. Terbilang muda sebagi istri dan ibu rumah tangga. Perjalanan asmara ini terjadi saat aku berusia belasan tahun yang lalu saat aku sempat tinggal di Kediri, Jatim.
Pertengahan tahun 2015 merupakan awal kisah ini dimulai. Pertemuanku terjadi ketika mas Abas menemani kakak sepupuku datang ke rumah menjenguk kakek. Lelaki cungkring yang sempat membuat perasaanku berlinu-linu atas kehadirannya. Lain hari, keakraban kami semakin dekat tatkala aku terpaksa berbonceng dengannya bersama kakak sepupuku mas Dewa. Semenjak itu dia meminta kontakku pada mas Dewa dan kedekatan kami semakin akrab semakin hari.
Entah bagaimana ceritanya, aku akhirnya bisa jatuh di tangannya. Aku masih ingat, ketika ulang tahunku tepat di usia 18 tahun kala itu. Aku meminta kado mawar putih dari mas Abas alias mas Cungkring. Bunga itu kurawat dengan baik setiap harinya, bunga hidup yang menjadi saksi cinta tanpa bicara. Ketika berbunga di awal mekarnya aku pernah dengan bangganya memetik dan memberikannya pada mas Abas sebagai bukti aku benar-benar mencintai kado darinya ini.
Kala itu, aku cukup sering bertemu dengan mas Abas. Hari demi hari bersamanya mewarnai tahun 2015-2016. Baik keluar makan, jalan-jalan ke wisata, kehujanan kepanasan berdua bahkan apapun. Begitu bahagianya aku memilikimu saat itu. Rasa nyaman terhadap lelaki yang kufikir adalah takdirku memberi kenangan manis tersendiri ketika aku mengenangnya. Wates adalah wilayah kecamatan yang turut menjadi bukti hubungan kami. Banyak yang sering kami kunjungi di wilayah ini, salah satunya tempat makan ayam bakar Bromo. Mungkin beberapa kalian paham tempat ini.
Di akhir angkatan 2015/2016, aku lulus dari salah satu sekolah kejuruan swasta di Wates hingga kemudian aku memutuskan untuk bekerja di toko. Meski tanpa KTP, berhubung aku bukan orang asli daerah sini, ternyata rejeki masih berpihak padaku. Aku mendapat bos dan rekan kerja yang sangat baik.
Lain waktu, aku mengalami satu kejadian dramatis yang belum pernah bisa kulupakan. Bukan karena kejadiannya, tapi karena orang-orang terkasih yang menyayangiku dalam keadaan itu. Kenangan mereka terlalu membekas.
Aku sempat mengalami kecelakaan saat berangkat bekerja dengan keadaan terburu-buru. Aku bertabrakan dengan seseorang yang perjalanan jauh Kediri-Malang. Hal ini membuat tulang belakangku sedikit retak dan harus ditangani khusus. Mas Abas, lagi-lagi dialah seseorang yang selalu ada. Memperhatikanku, merawatku bahkan sekaligus ibunya. Keluarganya sangat tulus mengasihiku selama ini. Bahkan hingga hampir keluarga besarnya juga sudah mengenalku, meski tidak dengan keluargaku. Ayah ibu tidak pernah merestui hubungan ini, entah atas dasar apa. Sampai sekarang aku tidak menemukan jawabannya.
Selain bunga mawar, aku juga menyimpan kenangan dari mas Abas lainnya. Salah satunya boneka beruang ini. Betapa kuingat bahwa mas Abas pernah berkata "jika merindukanku, kau bisa memeluk boneka ini". Dan aku selalu menyimpannya.
Kisah demi kisah teruari manis di antara aku dan mas Abas. Hingga suatu saat, hal yang tidak diinginkan terjadi. Aku tidak bisa berterus lama tinggal di Kediri, karena aku bukan orang asli sini. Kenangan terakhir di bulan Februari 2017, kami pergi ke wisata BDI. Wisata baru kala itu, yang mungkin kalian juga pernah mengunjunginya. Keesokan malamnya kami ke bioskop untuk menonton bersama. Itulah hari-hari terakhir aku bersamanya. Hingga akhirnya tanggal 23 aku pamit pada mas Abas dan keluarganya untuk kembali pulang ke Sumatera.
Berat bagiku meminta izin pergi jauh kepada keluarga keduaku di kota itu. Mas Abas, kakak perempuannya, bapak, ibuk, mereka terlalu baik untukku. Aku ingat betul ketika air mata mereka berkaca-kaca mengiringi ucapan izinku untuk pergi. Aku tak kuasa memeluk ibunya, yang sangat mengasihiku dengan baiknya selama ini. Di sisi lain, mas Abas berdiam diri di dapur rumahnya seolah belum bisa terima. Aku berusaha menenangkannya.
Perjalanan 3 hari 2 malam kutempuh setelah hari pahit itu. Awalnya aku berfikir hendak pindah KTP untuk kembali datang ke Kediri.
Setelah sekitar tiga bulan aku di Sumatera, aku memutuskan kerja. Selama itu aku selalu berusaha mempertahankan hubungan jarak jauh dengan mas Abas. Namun, selama itu pula ibuku dengan susah payah terus berusaha memisahkan kami. Rumit bagiku, untuk memberatkan salah satu dari dua orang yang kucintai. Hingga akhirnya aku menyerah. Aku selalu meminta mas Abas mencari wanita penggantiku. Setiap permintaanku itu pula tidak pernah diindahkannya.
Hingga suatu saat, tepatnya Januari 2018 aku bilang ke mas Abas bahwa aku hamil dengan rekan kerjaku. Aku hanya berpura-pura agar lekas tidak semakin dalam melukainya. Andai kau tahu mas Abas kala itu. Aku benar-benar terluka untuk sekedar mengungkapkannya. Meski kamu tidak pernah percaya, karena kau tau aku bagaimana orangnya.
Semenjak itu pula komunikasi kami semakin renggang. Kondisiku semakin drop sakit-sakitan karena merindukannya. Ingin kusampaikan banyak hal kepadamu bilasaja kita bisa bertemu. Namun semua itu hanyalah semu. Ibuku sempat memeriksakan keadaanku ke manapun. Tidak hanya sekedar medis, namun juga psikis. Menurut seorang sikiater/psikolog saat itu taraf kesadaranku rendah. Aku hanya memiliki 40% kesadaran, sisanya 60% kuhabiskan untuk memikirkan hubunganku dengan mas Abas. Betapa aku emang sedikit keterlaluan kala itu. Tapi bagi seorang pecinta sejati, pasti juga pernah merasakan posisiku.
Mei 2018 aku berusaha memberi alamatku di kampung ini. Berharap saja mas Abas mau datang menjemputku dan membawa pulang bersamanya. Tapi na'as, bukan kabar bahagia atas perjuangannya yang kudapatkan. Justru dia menjalin hubungan dengan wanita lain ke jenjang tunangan. Saat itu aku sadar, sudah tidak ada banyak hal yang bisa kulakukan.
NB : Mas Cungkringku, ketahuilah! Semenjak aku mencintaimu, aku tidak pernah mencintai siapapun. Dan saat ini aku masih mencintaimu sampai batas mana aku mencintaimu dulu.
Aku tidak marah kalau kamu membuka hatimu untuk yang lain, karena aku yang memintanya. Tapi aku kecewa, saat kamu diam-diam dengannya. Sejatinya tuhan menciptakan aku bukan untuk menyakitimu, meski bukan pula aku yang membahagiakanmu. Sesuatu yang hilang, akan terasa jauh lebih berharga setelah kepergiannya. Dan aku ingin menjadi sesuatu yang berharga di hidupmu. Semoga bahagia dengan keluarga barumu.
(Writer = Firda, real story by : AP, tertanggal up 11 Mei 2020)
Terimakasih bagi teman-teman yang sudah meluangkan waktu untuk membaca blog ini. Mohon maaf agak telat sedikit karena berhubung blogger banyak agenda. 😀 Setiap Sabtu atau Minggu artikel cerita beserta bagaimanapun unggahannya, mari kita ambil hikmah positifnya. Bagi kalian yang juga ingin berbagi cerita pengalamannya, baik kisah asmara, pengalaman seram, motivasi hidup, dsb. Bisa kirimkan kisah intinya ke e-mail : firdarohmawati03@gmail.com. Pastinya GRATIS. Jangan lupa klik tombol langganan di atas, agar tidak terlewat setiap postingan barunya. Juga jangan lupa follow blog ini dengan menekan dashboard/menu (bagan 3 garis di pojok atas, beranda depan blog ini) lalu klik ikuti via email. Maka pemberitahuan setiap unggahan terbaru akan cepat muncul.
Sampai jumpa minggu depan, dan mohon maaf atas kesalahan yang ada. Selamat berkarya, salam FR.



Komentar